Apa yang kamu cari?

Kesenangan, lihat di enjoy
Pembelajaran, lihat di learn
Semangat, lihat di inspire


Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Tuesday, 27 October 2009

Pabrik Itu Bernama Sekolah

Saya terlewat kagum kepada seorang Izza Ahsin dalam bukunya Dunia tanpa Sekolah. Ia –walaupun dengan umur yang masih begitu muda– berani mengungkapkan pendapatnya terhadap dunia pendidikan. Izza baru berumur 15 tahun waktu itu. Saat itu dia kelas 3 SMP –3 bulan lagi UAN– dan ia memberanikan diri untuk keluar (berhenti) sekolah. Karena ia menganggap sekolah hanyalah formalitas belaka (ya, saya setuju) dan telah memenjarakan segala kreatifitasnya (ya, setuju lagi). Sekolah menurutnya bukan lagi tempat yang pantas untuk mencari ilmu-ilmu yang akan menuntunnya untuk capai cita-citanya untuk jadi seorang penulis. Walaupun dengan berat hati, tapi akhirnya ibunda Izza rela melepaskan anaknya dari bangku sekolah. Walaupun setelah itu ia harus menerima berbagai macam cemoohan dan ejekan dari tetangga bahkan saudaranya sendiri. Namun begitu, ia malah dengan hebatnya bisa menulis buku berjudul Dunia Tanpa Sekolah. Takjub.

Saya sampai terkagum-kagum ketika baca tulisannya yang seperti ini “Aku memilih melawan arus; membebaskan diriku sepenuhnya, tetapi juga mendapat tantangan berat dari luar. Yaitu, dari orang-orang yang menganggap anak yang tidak ingin sekolah, tetapi ingin belajar adalah lelucon; Sedangkan anak yang sekolah, tetapi tidak belajar adalah biasa” Sungguh, pemikiran sederhana dari seorang Izza ini amat menggugah saya pribadi. Saya pun jadi berfikir, kenapa ada stigma seperti itu di masyarakat?

Sejarah sekolah

Sistem “sekolah” yang ada sekarang ini adalah hasil dari pencarian seorang Horace Mann yang pada tahun 1837 diangkat menjadi Commissioner of Education, –semacam menteri pendidikan– di Amerika.

Pendidikan di Amerika awalnya adalah dengan cara mengumpulkan siswa lalu menyuruhnya untuk menghafal teori untuk kemudian dites di depan. Parah. Ketika Amerika sedang meledak populasinya, dan kebutuhan akan pendidikan secara signifikan naik, maka ia pun pegi ke Eropa untuk mencari sebuah sistem pendidikan yang murah dan efektif.

Maka ditemukan dan dikembangkanlah sistem sekolah seperti sekarang ini. Ada guru, juga murid secara klasikal. Ada tingkatan kelas, ada materi pembelajaran dan ada tes (ujian) Yang sebenarnya ini adalah hasil adaptasi terhadap sistem militer Prusia (sekarang Jerman).

Kata kindergarten (bahasa Inggris : TK) sendiri sebenarnya adalah bahasa Prusia. Sistem sekolah Prusia digunakan untuk mendidik tentara. Dan karena yang akan dibentuk adalah suatu makhluk militer –yang tentunya siap pakai- maka harus ada yang berpangkat tinggi dan rendah, maka dibentuklah system Top-Down juga sistem ujian untuk menyaringnya.

Kloning siswa

Menarik kalau kita ingat kembali masa-masa SD dulu. Coba ingat lagi masa-masa itu. Masa-masa kita lagi lucu-lucunya. Tepatnya saat pelajaran kesenian. Dan ketika disuruh menggambar, apa yang digambar siswa? Pasti pemandangan. Ada dua buah gunung, dengan matahari yang berbentuk seperempat lingkaran timbul dari balik gunung itu. Di atasnya, ada banyak “m” yang ceritanya adalah burung. Juga ada awan bulat. Di bawahnya ada semacam garis-garis zigzag seperti sandi rumput yang menandakan bahwa itu adalah hutan. Di bawahnya, ada sawah terbentang dengan bentuk padi yang menyerupai “v” dengan beberapa buah rumah tersebar. Dan tepat di tengahnya, ada jalan raya, kalaupun tidak, pasti sungai.


Gambar ini hasil googling "pemandangan anak tk"

Familiar? Belum lagi masalah kapal-kapalan dari kertas. Pasti bentuknya itu lagi itu lagi. Terlihat di sini kebenaran pernyataan Izza Ahsin, sekolah memang benar-benar telah memenjarakan kreatifitas manusia.

Saya jadi ingat waktu kelas 2 SD dulu, saya pernah membuat gambar yang berbeda dari teman kebanyakan, kalau teman membuat pemandangan gunung, saya membuat pemandangan pantai. Memang gambarnya tak bagus bagus amat, tapi yang buat saya kecewa adalah cemoohan dari teman serta guru. Mereka bilang “Ko kamu bikin pantai sih?”

Refleksi

Hasilnya terlihat bukan? Sebagai contoh, para tentara kita itu jauh lebih “kembar” ketimbang yang kembar identik sekalipun. Mereka mendapat doktrin yang sama, mendapat “kekejaman” yang sama, mendapat “otoritas” kedisiplinan yang sama sampai rambut pun dipotongcepak sama. Mereka (maaf) bak produk robot-robot dari sebuah pabrik. Tanpa karakter sedikitpun. Tapi itu tak jadi masalah, karena mereka adalah tentara yang tugasnya adalah membela Negara. Mereka memang harus berstandar sama sesuai dengan prinsip kesamaan agar solidaritas yang amat sangat tetap hadir di antara mereka.

Tapi, apa itu yang diharapkan dari lulusan sekolah? Sudahlah, cukup Akpol dan Akmil yang bikin lulusan “robot” seperti itu, lulusan sekolah jangan. Lulusan sebuah sekolah apalagi universitas harus punya karakter yang dibutuhkan oleh negeri ini, harus punya kreatifitas dan daya saing.

Lihatlah hasil lulusan sistem sekarang. Mayoritas mereka adalah manusia-manusia robot yang kaku seolah tak dimasukkan program “perasaan” dalam memorinya yang kepenuhan teori itu. Lihat pula para “pejabat” yang terlihat tidak punya hati Karena dengan semena-mena mempermainkan rakyat juga uangnya. Mereka manusia, tapi tidak manusiawi.

Reformasi

Sekolah –yang sekarang mirip pabrik ini– seharusnya tidak mensubstitusikan materi kepada peserta didiknya semacam itu. Karena bagaimanapun, Tuhan Yang MahaKuasa sudah menghadiahi masing-masing individu dengan kemampuan unik masing-masing. Pemerintah tidak boleh memukulratakan kemampuan semua siswa. Tuhan membuat manusia bukan untuk bersaing, melainkan untuk berdamping, karena antara manusia yang satu dan yang lainnya adalah sama-sama istimewa dan berharganya. Dan tak ada yang lebih hebat di antaranya.

Sekolah, saya rasa seharusnya “hanya” jadi pendamping dan sebagai salah satu fasilitas untuk para peserta didiknya mencari kemampuan uniknya atau si “aku yang hebat”nya masing-masing. Karena tidak semua orang secerdas Izza, yang mampu menemukan “Izza yang hebat” dalam dirinya melalui dunia kepenulisan.

Wednesday, 21 October 2009

Negara

[Part 1. asal, sifat dan unsur]

"Negara adalah sebuah organisasi di sebuah wilayah yang punya kekuasaan tertinggi yang sah dan harus ditaati rakyatnya."

(Miriam Budiardjo)


Asal mula negara
a. Kontrak sosial. Ada perjanjian antarkelompok untuk mendirikan sebuah negara.
contoh : Indonesia. Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra dan Jong Jong lainnya yang berkumpul untuk melawan penjajah dan membentuk Indonesia.

b. Kekuasaan. Ada dominasi dari yang kuat ke yang lemah. Sejenis hukum rimba.
contoh : Australia. Suku Aborigin yang akhirnya menyingkir dari Tanah Australia dan membiarkan bangsa Eropa membangun Australia.

c. Ketuhanan. Negara adalah pemberian Tuhan dan raja/ratu yang memimpin adalah perpanjangan tangan Tuhan.
contoh : Israel. Konsepsi Musa yang menyebutkan bahwa Israel adalah tanah terjanji yang diberikan Tuhan pada bangsa Yahudi.

d. Patriakhal-matriakhal. Negara terbentuk atas garis keturunan.
Patriakhal adalah garis ayah, matriakhal adalah garis ibu.
contoh : Inggris. Pemimpin negara ini selalu dilanjutkan oleh keturunan pemimpin sebelumnya.

e. Organis. Negara itu seperti makhluk hidup. Ada kelahiran, pertumbuhan, dewasa, tua dan akhirnya mati (lho!)

Sifat negara

a. Memaksa. contoh : UU negara.
b. Monopoli. Negara menguasai nilai-nilai vital dari Masyarakat. Kalo yang absolut ada di Cina, Rusia. contoh : pelarangan Lia Eden.
c. Mencangkup semua. contoh : UU APP yang berlaku se-Indonesia. Ngga misalkan hanya berlaku di jawa Barat aja.

Unsur negara

a. Rakyat
b. Wilayah
c. Pemerintahan yang berdaulat
(diakui rakyatnya dan diakui pemerintahan lain)





Daftar menteri KIB 2

[Lihat daftar menteri di sini]
[Laporan selang 1 jam dari kejadian aslinya]
[Masih fresh]

Sekitar pukul 22.00, Presiden SBY sudah mengumumkan siapa sajakah para pembatunya di kabinet jilid 2 mendatang di Istana Merdeka Jakarta. Dan tanpa perlu mendongeng akan komposisi politisi dan profesional terlebih dahulu, ini dia para pembantu tersebut.


Menteri Koordinator
Menkopolhukam
Djoko Suyanto

Menkoperekonomian
Hatta Radjasa

Menkokesra
Agung laksono

Mensesneg
Sudi Silalahi

Menteri Departemen
Mendagri
Gamawan Fauzi

Menlugri
Marty Natalegawa

Menhan
Purnomo Yusgiantoro

Menhukam
Patrialis Akbar

Menag
Suryadharma Ali

Menind
MS Hidayat

Menesdm
Darwin Zahedy

Menkeu
Sri Mulyani

Menhut
Zulkifli Hasan

Mentan
Suswono

Menkes
Endang Rahayu

Menpu
Djoko Kirmanto

Mensos
Salim Segaf

Mendiknas
Muhammad Nuh

Mendag
Mari Elka Pangestu

Menlaik
Fadel Muhammad

Menhub
Freddy Numberi

Menakertrans
Muhaimin Iskandar

Menbudpar
Jero Wacik

Menkominfo
Tifatul Sembiring

Menteri Negara
Menegkoukm
Syarif Hasan

Meneglingdup
Gusti Moh. Hatta

Menristek
Suharna Surapranata

Menegpanrebi
(ditambah reformasi birokrasi)
Ee Mangindaan

Menegpepeperak
(ditambah perlindungan anak)
Linda Agum Gumelar

Menegpedate
Helmy Faisal Zaini

Menegpora
Andi Mallarangeng

Menegbumn
Mustafa Abubakar

Menegppn + Ka-bappenas
Armida Alisyahbana

Menegpera
Suharso Monoarfa

Pejabat setingkat menteri
Ka-BIN
Sutanto

Ka-BKPM
Gita Wirjawan

Ka-Pengawasan Pengendalian Pembangunan
Kuntoro


[demikian RahaReport melaporkan]

Photobucket Photobucket Photobucket

Wanna be inspired? Explore this...